Ketua DPD RI Sebut Sulistiyo Konsisten Perjuangkan Nasib Guru Honorer

Kematian Ketua PB PGRI Dr Sulistiyo MPd dalam peristiwa kebakaran di Rumah Sakit Mintohardjo Jakarta meninggalkan duka mendalam bagi para koleganya.
Ketua DPD RI Irman Gusman mengatakan, dirinya tak menyangka sahabat dekatnya itu meninggal dunia secepat ini. Padahal, ia masih sempat berdiskusi dengan almarhum hari Kamis pekan lalu.

Ketua PGRI, Sulistyo saat menghadiri evaluasi memperjuangkan anggaran daerah di kantor DPD Jawa Tengah Jalan Imam Bonjol Semarang, Selasa (29/12/2015). Foto: metrosemarang.com/dok
Ketua PGRI, Sulistyo saat menghadiri evaluasi memperjuangkan anggaran daerah di kantor DPD Jawa Tengah Jalan Imam Bonjol Semarang, Selasa (29/12/2015). Foto: metrosemarang.com/dok
“Baru Kamis kemarin ngobrol-ngobrol soal perkembangan kasus guru honorer. Setelah itu, dia ke Semarang untuk mengurusi banyak hal terutama persoalan guru,” ungkap Irman saat melayat di rumah duka Jalan Karangingas Nomor 8 Tlogosari Kulon Semarang, Selasa (15/3).
“Lalu Minggu kemarin dia balik ke Jakarta untuk mengerjakan tugas kenegaraan di kantor DPD. Makanya, saya benar-benar enggak mengira beliau meninggal dalam kebakaran itu,” sambungnya.
Dengan segudang prestasinya di dunia pendidikan, ia menilai almarhum merupakan putra terbaik yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Dia itu putra terbaik bangsa, pejuang pendidikan juga pejuang guru. Jadi kita doakan semoga khusnul kotimah,” kata Irman lagi.
Satu hal yang membekas di ingatannya adalah tatkala almarhum bersikukuh memperjuangkan permasalahan yang membelit guru honorer kepada pemerintah pusat. Menurut Irman hal itu wujud sikap konsisten yang diperlihatkan almarhum untuk memperjuangkan hak-hak para guru honorer. “Dialah garda terdepan saat guru-guru di negeri ini terbelit masalah kesejahteraan,” tegasnya.
Lantas, apa saja cita-cita almarhum yang belum tercapai? “Ya tentu hingga akhir hayatnya ia belum sempat melihat peningkatan kualitas pendidikan nasional. Tapi cita-citanya itu tak akan pernah berakhir. Apalagi sebagai pucuk pimpinan PGRI dan Komisi III perjuangannya untuk guru saya kira sangat efektif,” jelasnya.
Usulan lain yang belum terwujud, ia menambahkan adalah soal penyelesaian masalah sertifikasi pengajar dan kesejahteraan guru. Selain itu kesejahteraan para honorer dan segudang masalah lainnya masih belum tuntas.
“Dia memang selalu fokus di bidang pendidikan nasional. Bahkan, sebelum jadi korban kecelakaan di Rumah Sakit Mintohardjo, dia sempat ikut berdemo di Istana Negara demi memperjuangkan hak guru honorer,” tukasnya.